Kamis, 11 Desember 2008

ZIKIR, METODE DAN PRAKTEKNYA

Oleh Abdul Hadi W. M.

abduhadiwm1Perkataan zikir secara harfiah berarti mengingat, yang yaitu mengingat Allah. Sekalipun demikian perkataan zikir diartikan sebagai cara menyebut kata Allah dengan lidah untuk mengingat-Nya. Dalam praktek keagamaan, ia juga diartikan sebagai ikhtiar menanamkan ingatan kepada Allah dalam hati dan pikiran secara mendalam, agar kita tidak pernah lalai kepada perintah dan selalu berhati-hati dalam perbuatan sebab segala gerak-gerik kita senantiasa dalam pengawasan-Nya. Sebagai metode penyucian diri, zikir diartikan sebagai bentuk-bentuk tertentu penyebutan kata-kata suci, khususnya nama-nama-Nya beserta sifat-sifat-Nya secara berulang-ulang sehingga ingatan kepada-Nya benar-benar tertanam dalam hati. Sebagai cara tertentu menyebut nama-nama dan sidat-sifat-Nya, serta permohonan atau doa kepada-Nya, zikir mencakup salat, wirid dan doa-doa yang disampaikan sesudah salat.

Dalam praktek sufi dan tarekat, zikir dilakukan sebagai sarana perenungan (musyahadah), meditasi (muraqabah) dan transendensi (penembusan hakekat, mukasyafah). Melalui zikir para sufi berharap dapat membersihkan hati dan pikiran dari segala sesuatu selain Dia. Zikir dipandang sebagai buah cinta seorang hamba kepada Khaliknya, dan dengan itu dapat membuahkan cinta yang dalam kepada Yang Satu.
Dalam kehidupan ahli tarekat praktek zikir dimulai dengan salat jamaah, diteruskan dengan penyampaian doa, zikir nama-nama-Nya dan sejumlah wirid. Ada dua jenis zikir yang dikenal dalam kalangan ahli tasawuf. Yaitu zikir jali, zikir yang diucapkan dengan suara keras secara bersama-sama sehingga membentuk paduan suara yang indah. Paduan suara indah ini membentuk suasana sendiri bagi kehidupan jiwa pezikir. Zikir yang kedua ialah zikir khafi, yang diucapkan dalam hati. Zikir khafi disebut juga zikir kalbi.
Mengenai pentingnya zikir secara umum banyak ayat al-Qur`an mengemukakan. Di antaranya: “Jauhilah olehmu orang-orang yang lupa mengingat (zikir) Kami, yaitu mereka yang mencari kesenangan dunia semata-mata” (53:29); “Apabila kau tidak sedang salat, senantiasalah ingat (zikir) Allah ketika sedang berdiri, duduk atau berbaring” (4:103); “Ingatlah asma Tuhanmu dan taatlah kepada-Nya dengan sepenuh hati” (73:8): “Ingatlah nama Tuhanmu siang dan malam” (76:25); “Wahai orang beriman, ingatlah Tuhan terus menerus”; “Ingatlah Tuhan selalu, maka kau akan berhasil” (62:10); “Sesungguhnya salat itu dapat mencegah kejahatan, sedangkan ingat (zikir) kepada Tuhan sangat besar keutamaannya” (29:45) dan lain-lain.
Adapan tentang zikir kalbi disebutkan antara lain dalam al-Qur`an 7:205, “Ingatlah Tuhanmu dalam hati, dengan lembut ” serta tanpa atau dengan kata-kata, siang atau malam, dan jadilah kau orang yang tidak lalai” dan al-Qur`an 13:28, “Hati orang yang beriman ialah tempat mengingat Allah, sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati seseorang itu damai”. Beberapa Hadis qudsi juga menyinggung keutamaan zikir khafi. Di antaranya, “Zikir yang paling utama ialah zikir khafi” (dipetik Ruzbihan al-Baqli dalam Musyrab al-Arwah), “Allah berfirman, ‘Aku mengambil wujud dalam pikiran pemuja-Ku, dan Aku beserta dia apabila dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hati, Aku akan bersamanya secara batin, dan jika dia mengingat-Ku dengan suara keras, Aku akan bersamanya secara zahir.’ (dipetik oleh Syah Nikmatullah, pengasas Tarekat Nikmatulllah).

Adab Zikir dan Falsafahnya_

Zikir dilakukan dengan adab atau aturan tertentu. Di antara adab atau aturan zikir yang disetujui ahli-ahli tarekat itu ada sepuluh:

1. Pezikir senantiasa dalam keadaan suci, yaitu dengan wuduk.
2. Memakai baju yang bersih
3. Memakai wewangian secukupnya.
4. Duduk dalam keadaan khusyuk menghadap kiblat.
5. Disarankan agar mata sedikit dipejamkan, sebab memejamkan mata melambangkan ketertutupan terhadap dunia dan keterbukaan terhadap alam kerohanian.
6. Ada guru atau pir yang mengawasi selama berzikir.
7. Duduk bersila, dengan telapak tangan kanan di atas lutut sebelah kiri dan tangan kanan diletakkan di dada kanan. Posisi semacam ini membentuk huruf “lam” (la = tidak) yang bermakna bahwa seseorang mengosongkan diri dari segala sesuatu, termasuk kediriannya. Dengan demikian maka tubuh diharapkan berada dalam keadaan selaras dengan hati.
8. Mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah. Misalnya dengan menyebut nama-namanya, seperti Ya Allah, Ya Nur, Ya Haqq, Ya Mubin sebanyak 144 atau 313 kali.
9. Selama melakukan zikir seorang harus diam dan tidak bercakap-cakap, kecuali mengatakan sesuatu yang benar-benar diperlukan.
l0. Menerima kondisi apapun yang diturunkan kepadanya selama amalan zikir dilakukan.

Salah satu ucapan suci yang biasa dalam praktek zikir sufi ialah penyebutan kata La ilaha ill Allah secara berulang-ulang. Diriwayatkan dalam kitab Misryad al-Ibad bahwa pada suatu masa Nabi Muhammad s.a.w. sedang berkumpul dengan para sahabat di kediaman beliau. Nabi mengatakan bahwa zikir yang paling asas ialah zikir La ilaha ill Allah. Dalam kitab Zawahir al-Khamsah diriwayatkan bahwa Nabi menunjukkan jalan tersingkat dan termudah menunju Tuhan ialah dengan membaca zikir dalam suasana hening dan sunyi. Ali bertanya tentang hal tersebut. Konon Nabi menjawab, “Tutuplah matamu dan dengar aku bagaimana aku mengucapkan La ilaha ill Allah”. Ali mendengar Nabi mengucapkan kata La ilaha ill Allah sebanyak tiga kali.
Mengenai duduk bersila dalam posisi menyerupai huruf la, khususnya dalam Tarekat Qadiriyah dan Nikmmatullah, dikaitkan dengan zikir utama La ilaha illa Allah. Dengan posisi tubuh seperti itu seorang pezikir (zakir) menghadapkan wajah ke kiblat sambil memejamkan mata. Kata-kata la diucapkan seraya menarik bunyi dari pusar, mengangkat ke arah baru, lalu mengucapkan ilaha seraya menarik bunyi itu dari otaknya. Setelah itu menanamkan kata-kata ill Allah dalam hati seolah-olah mengetukkannya. Pada waktu melakukan ketukan ini maka pikiran pezikir harus dikosongkan dari selain Allah, dan memandang bahwa hanya Allah sajalah Wujud Hakiki dan Tujuan Sebenarnya dari kehidupan ini (Allah sangkan paraning dumadi).
Cara berzikir dengan posisi dan gerakan tubuh seperti itu melambangkan peniadaan (nafi) kepada selain Tuan dan sekaligus pengiayaan (isbat) terhadap Yang Satu. Karena itu zikir seperti ini disebut zikir nafi isbat.Selain zikir nafi isbat di atas, ada zikir lain yaitu: zikir Nama Zat Tuhan, yaitu Allah. Cara melakukannya lihat buku Mir Valiuddin Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf (hal.123-4). Berbagai metode dan posisi zikir dikembangkan oleh para ahli tarekat berdasar penafsiran yang berbeda-beda terhadap seruan pentingnya zikir dan maknanya. Metode dan posisi yang diperkenalkan Tarekat Qadiriyah misalnya ada kaitannya dengan praktek Yoga Pranayama yang diperkenalkan pada abad ke-14 di Bengali, India dan berkembang di Indonesia pada abad ke-15, pada zaman Mpu Tanakung (lihat kitab Jnanasiddhanta. Terj. Haryati Subadio. Jakarta: Jambatan, 1984). Begitu pula halnya dengan cara mengatur nafas, dipengaruhi oleh praktek yoga. Dalam buku Ranggawarsita Wirid Hidayat Jati_ (1850an) amalan seperti itu digambarkan juga. Walaupun demikian tokoh awal Tarekat Qadiriyah Nusantara pada abad ke-16, yaitu Hamzah Fansuri, kurang menyetujui metode seperti itu.
Namun bagaimana pun juga ahli tarekat mengharapkan dengan metode seperti itu dapat ditanamkan perasaan tidak mementingkan diri sendiri, kerendahhatian, ketundukan, kedamaian jiwa dan ketenangan pikiran. Sebab sebagaimana telah dikemukakan tujuan zikir ialah mencapai keadaan musyahadah dan memperoleh cinta transendental. Selain kedua macam zikir di atas ahli tarekat juga mengenal zikir nama-nama Allah, seperti Allah Haqq, Allah Sami`un, Allah Bashirun, Allah Alimun dan lain-lain (lihat Mir Valiuddin, hal. 126),

Doa dan Wirid
Amalan zikir tidaklah lengkap tanpa pembacaan doa dan wirid, yang dapat dilakukan setiap waktu dalam keadaan luang dan lapang. Wirid merupakan seruan yang mengandung permohonan tertentu kepada Allah s.w.t. Perkataan wirid pada mulanya diartikan sebagai kejawiban sehari-hari yang ditetapkan kepada seseorang. Kemudian ia juga diartikan sebagai doa-doa yang diucapkan berulang-ulang setiap hari. Dalam peristilah sufi wirid ialah doa yang diulang-ulang pada waktu tertentu setiap hari, biasanya seusai salat wajib. Doa-doa yang diucapkan itu termasuk ayat-ayat al-Qur’an tertentu, doa yang dipilih para wali untuk keperluan tertentu dan lain sebagainya.
Mengenai keutamaan wirid al-Qur`an 20:130 menyebutkan, “Dan pujilah Tuhan siang dan malam agar supaya kau memperoleh kedamaian”; QS 76:25, “Dan ingatlah nama Tuhanmu siang dan malam”; QS 76:26), “Dan dalam kegelapan malam serahkan dirimu kepadanya dengan bersujud, serta pujilah Dia sepanjang malam”. Adapun mengenai keutamaan wirid para wali sufi mengatakan bahwa barang siapa melalaikan wirid maka dia tidak akan memperoleh warid. Warid di sini diartikan sebagai hidayah atau petunjuk yang diturunkan ke dalam hati seseorang tanpa diminta. Kata warid juga sering dikaitkan dengan pengetahuan intuitif, ilham dan lain sebagainya.
Jenis wirid bermacam-macam. Setiap tarekat memiliki wirid yang berbeda. Persamaannya wirid itu selalu diucapkan sesudah salat wajib. Tarekat Maulawiyah yang didirikan Jalaluddin Rumi mempunyai tradisi wirid berjamaah yang dilanjutkan dengan upacara sama’, yaitu melantunkan konser musik kerohanian yang disebut takhtu syima. Mengenai wirid Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naksabandiyah, dua tarekat yang terkenal dan telah berkembang lama di Indonesia, silakan baca buku Mir Valiuddin. Dalam pembahasan ini saya akan menguraikan wirid sebagaimana dipraktekkan Tarekat Nikmatullah (lihat buku Javad Nurbakhs In the Paradise of Sufi. New York, tanpa tahun).
Wirid dalam Tarekat Nikmatullah dibagi menjadi dua, yaitu wirid biasa yang dibaca seusai salat wajib dan wirid yang diberikan oleh guru tarekat. Di dalam jenis wirid kedua termasuk ayat-ayat al-Qur`an tertentu yang mesti dibaca berulang-ulang.

A. Wirid seusai salat.
1. Secara berturut-turut membaca Allahu Akbar 34 kali, Alhamudillah 33 kali, Subhanallah
33 kali.
2. Setelah itu membaca La ilaha illallah 3 atau 100 kali.
3. Membaca ayat Kursi (QS 2:255-7):

Allahu lailaha illa huwal qayyum
la ta`khuzuhu sinatun
wa la naum Lahu ma fis-samawati wa ma fil ard
Man dzallazi yashfa’u `indahu illa bi idznih
Ya`lamu ma bayna aydihim wa ma khalfahum
Wa la yuhituna bi shay`in min `ilmihi
illa bi masha` wasi`a kursiyyus samawati wa’l- ard
wa la ya`uduhu hifdzahuma wa
huwwal`lliyul-`adzim” _
La ikraha fiddin, qad tabayyanar rushdu min al-ghayy
faman yakfur bit-taghut
wa yu`min billah faqadis tamsaka
bil-`urwatil-wusqa lanfisama laha
wallahu zami`un `alim
Allahu waliyyulazina amanu
yukhrijuhum-min as-sulamati ilan-nur
walladzina kafaru uwlya `uhumut-thagut
yukhri-junahum min an-nuri iladz-dzulumat
`Ula’ika asnabun-nar, hum fiha khalidun.

4. Setelah mengucapkan wirid di atas maka pengikut tarekat bersujud sebagaimana bersujud waktu salat. Setelah itu dia membaca sebanyak 3, 5 atau 7 kali wirid berikut:

Ya mufattaha`l-abwaub
Ya musabbiba`l-asbab
Ya muqallibal-qulubiwal-absar
Ya mudabbiral-layi wan nahar
Ya muhawwilal-haliwal-`ahwal
Hawwil hali ila ahsanil-hal

Artinya:

Ya Pembuka pintu kemurahan
Ya Sumber semua keinginan
Ya Penggerak hati dan mata
Ya Pemelihara siang dan malam
Ya Pengubah tenaga dan keadaan/kejadian
Ubahlah kejadianku menjadi sebaik-baik kejadian

5. Para penempuh jalan kerohanian (salik) juga dianjurkan membaca qunut setiap rakaat kedua salat berakhir:

Allahumma nawwir zahiri bi ta`atika
wa batini bi mahabbatika
wa qalbi bi ma`rifatika
wa ruhi bi musyhadatika
wa sirri bi `istiqlali ittisali hazratika
ya zul-jalali wal-ikram
Allahumm-aj`al qalbi nuran
wa sam`i nuran
wa bashari nuran
wa lisani nuran
wa yadayya nuran
wa rijlayya nuran
wa jami`a jawarini nuran
Allahumma aranal-ashya`a kamahi
Allahumma kun wajhati fi kulli wajhin
wamaqsadi fi kulli qasdin’
wa ghayati fi kulli shay`in
wa malji`i wa maladzi fi kulli shiddatin
wa hammin wa wakili fi kulli amrin
wa mahabbatin fi kulli halin
Wa sallallah `ala muhammadin
wa alayhi khayri alin

Artinya:

Ya Allah, terangi wujud zahirku dengan ketaatan kepada-Mu
Dan wujud batinku dengan kecintaan kepada-Mu
Dan hatiku dengan maktifat tentang-Mu
Dan rohku dengan penglihatan karib kepada-Mu
Dan sirku dengan kesanggupan mencapai Arasy-Mu
O Yang Maha Besar dan Agung
Dan penglihatanku
Dan pendengaranku
Dan lidahku
Dan tanganku
Dan kakiku
Dan seluruh tubuhku
O Cahaya segala cahaya
Ya Allah, tunjukkan sesuatu sebagaimana keadaan
sesungguhnya sesuatu itu
Ya Allah, kemana pun aku berpaling
Jadikan ia arah di belakangku
Kemana pun aku pergi
Jadikan ia arah tujuanku
Setiap ikhtiarku
Jadikan ia maksudku
Setiap saat penuh kesukaran dan duka
Jadikan ini pengungsian dan pendorongku
Setiap keputusan yang kuambil
Jadikan ia pembelaku
Hanya dengan kemurahan dan kasih-sayang-Mu
Kekuatan-Mu dapat membimbing setiap perbuatanku

Syekh Bayazid al-Bhistami, sufi abad ke-9 M, mengucapkan qunut yang indah dan bersahaja:

Ilahi anta ta`lamu ma nurid

Artinya:

Ya Allah, hanya Kau yang mengetahui keinginanku!

B. Mengenai wirid khusus yang diberikan para wali Tarekat Nikmatullah di antaranya ialah:

1. Kutipan ayat al-Qur`an 21:88, dibaca 110 kali:

La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu min adz-dzalimin

Artinya:

Tiada tuhan selain Allah, seluruh pujian hanya untuk-Nya,
sesungguhnya aku termasuk di antara orang yang zalim.

Wirid di atas dikenal sebagai wirid Yunus. Dengan membaca wirid tersebut Nabi Yunus a.s. dapat keluar dari perut ikan hiu.

2. Membaca 41 kali wirid:

Ya hayyu ya qayyum
Ya man la ilaha illa anta
birahmatika istaghnis

Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Kekal
Tiada tuhan selalin Engkau
Kepada rahmat-Mu semata aku berlindung!

3. Membaca 7 kali:

Subhanallahi wa bihamdihi
Subhanallahi l-`adzim wa bihamdihi
Astaghfirullah

Maha terpuji dan segala puji kepada Tuhan
Maha terpuji ialah Allah yang Maha Agung
Kepada Allah aku memohon ampunan

4. Membaca 7 kali:

Bismillahir rahmanir rahim
La hawla wa la qowwata illa bi`llahil-aliyal adzim

Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Penyayang
Tiada kekuatan dan kuasa selain dalam Tuhan
Yang Maha Mulia dan Besar”

5. Membaca 7 kali:

Huwallauladzi la ilaha illa hu
`alimul-ghaibi wasy-syahadati huwar-rahmanur-rahim

Dialah Tuhan, tiada tuhan selain Dia
Yang Maha mengetahui yang gaib maupun nyata
Serta Maha Pengasih dan Penyayang

6. Membaca ayat al-Qur`an 59:23:

Huwallauladzi la ilaha illa huwwal-malikul-quddus
salamul-mu`minul-muhayminul-`azizu’l-jabbaru’l-mutakabbir

7. Membaca ayat al-Qur`an 59:24:

Huwallahul-khaliqul-bari’ul-musawwir
Lahul-asma` al-husna. Yusabbihu lahu ma fis-
samawati wal-ard. Wa huwal-`azizul-hakim.

Selain itu para syekh tarekat Nikmatullah menganjurkan kepada ahli tarekat, khususnya dalam keadaan tertentu seperti menghadapi bahaya dan lain-lain, membaca: Ayat al-Qur`an 2: 163, 3:17, 6:103, 9:129, 20:7-8, 20:98, 23:116, 27:26, 28:70, 28:88, 40:65, 64:13, 73:9. Juga dianjurkan membaca Surah al-Waqi`ah (QS 56) dan al-Mulk (QS 67). Wirid perlu dibaca oleh karena walaupun seorang salik telah melakukan berbagai bentuk ibadah wajib dan sunnah, termasuk zikir, akan tetapi dia sering mendapat godaan dan gangguan. Kegunaan wirid ialah menanamkan kedamaian dalam hati serta keyakinan yang teguh kepada Yang Haqq. Ada yang membaca wirid dengan duduk bersila, ada yang membaca keras-keras seperti membaca kitab al-Qur`an dll. Yang lain membaca dalam hati dan ini disebut fikr atau tafakkur. Wirid dibaca untuk memperoleh keadaan rohani (hal) yang dikehendaki dalam jalan Tasawuf. Ia meneguhkan hati dan membawa pezikir dapat memasuki pintu persatuan dengan Yang Haqq.



Post: ARTIKEL|MAKALAH|SEJARAH|SUNNAH|HADIST|KISAH|PROPOSAL|ISLAM: ZIKIR, METODE DAN PRAKTEKNYA
Rating: 98% Based on 805 User Reviews, With 4.7 Stars



Tidak ada komentar: